Teman.. apapun yang ada sekarang dan bagaimanapun sekarang yang terpenting sabar (sabar ini yang selalu saya latih, karena mungkin saya memang tidak sabaran), doa dan bersyukur kemudian terus memperbaiki diri.
Jumat, 22 Agustus 2014
Random
Sudah hampir sebulan saya disini, menjalani perkerjaan saya disebuah rumah sakit dikota ini. banyak sekali cerita. ah kalo saya ceritakan malam ini tidak akan ada habisnya. haha ingat tadi sore seorang teman berkatta kepada saya "mil kamu sekarang dirumah sakit? waah luar biasa" tunggu dulu luar biasa bukannya hebat bukan, tapi dari 150 satu angkatan hanya sebagian kecil yang mau kerja di rumah sakit, rata - rata kerja di bagian asuransi, dosen, perusahaan lainnya dan ada juga yang melanjutkan pendidikan. ntah lah berdasarkan passion mungkin. tapi sekarang ya saya menikmati hal - hal yang saya lalui banyak sekali pelajaran - pelajaran hidup yang saya dapat dalam sebulan ini. segala sesuatu yang banyak harus kita syukuri memang,
Kamis, 21 Agustus 2014
Share
Dapat kiriman ini dari seorang teman, mau share di blog ini semoga bermanfaat
CINTA DUNIA TAKUT MATI (BELAJAR DARI PERISTIWA BAGHDAD).Gustave Le Bon, pernah memuji-muji Baghdad setinggi langit. Sejarawan Prancis tersebut menyatakan bahwa karena ilmu pengetahuan Baghdad pernah menjadi pusat dunia. Ini sebuah ironi bagi dunia Barat, karena,” …Saat pusat-pusat Islam di Baghdad sedang berada di puncak kecemerlangannya,pusat-pusat intelektual di Barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa, yang dihuni oleh para bangsawan semi barbarik yang merasa bangga atas ketidakmampuannya membaca…”tulis Le Bon dalam The World of Islamic Civilization.
Le Bone tidak berdusta. Ketika ada di bawah kekuasaan Bani Abassiyah, ilmu pengetahuan memang mengalami kemajuan yang sangat pesat di Baghdad. Kala itu, hampir di setiap sudut kota terdapat perpustakaan dan laboratorium penelitian. Bahkan bisa dikatakan hampir sebagian besar masyarakat Baghdad memiliki minat besar mempelajari matematika, fisika, kedokteran, seni dan filsafat.
Islam sendiri masuk ke Baghdad pada 637 M. Saat itu pasukan Kekhalifahan Arab Islam pimpinan Panglima Besar Saad ibn Abi Waqqash berhasil menguasai seluruh wilayah Kerajaan Persia termasuk ibu kota Ctesiphon. Mereka kemudian mendirikan pusat penerintahan di Kufah dan Basrah. Kenapa tidak memilih Baghdad? Bisa jadi selain belum ramai, saat itu Baghdad masih merupakan perkampungan kecil belaka.
Baghdad baru dilirik 125 tahun kemudian, saat Khalifah al Manshur dari Dinasti Abbasiyah meletakan batu pertama pembangunan sebuah ibu kota baru. Pemilihan Baghdad didasarkan pada beberapa alasan. Selain letaknya strategis secara militer, al Manshur juga melihat Baghdad memiliki Sungai Tigris. Itu faktor penting karena bisa menjadi sarana penghubung dengan Cina sekaligus mengeruk hasil makanan dari Mesopotamia, Armenia dan daerah sekitarnya.
Untuk membangun Baghdad, menurut Al-Thabari (sejarawan Arab klasik termashur), konon al Manshur sampai merogoh kocek sebesar 4.883.000 dirham dan mempekerjakan sekitar 100.000 arsitek, pengrajin, dan kuli yang berasal dari Syiria dan Mesopotamia.
Sejak itu, dinasti Abbasiyah memusatkan pemerintahannya di Baghdad. Namun berbeda dengan para pendahulunya para khulafaur rasyidin, gaya berkuasa khalifah-khalifah Abbasiyah terasing dari rakyatnya. Kebersahajaan dan informalitas lama yang menjadi ciri khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib) tergantikan oleh gaya hidup glamor dan hedonistik.
“Dalam keseharian, para khalifah Abbasiyah dikelilingi para tukang jagal dan body guard. Itu seperti sebuah bentuk pemberitahuan tersirat kepada khalayak bahwa mereka memiliki kekuasaan atas hidup dan mati,” tulis Karen Armstrong dalam Islam, A Short History.
Lebih dari 500 tahun, para khalifah dinasti Abbasiyah hidup dalam kejayaan dan kemewahan. Di bawah pemerintahan mereka,Baghdadyang awalnya hanya sebuah kampung kecil telah berubah menjadi pusat dunia laiknya New York atau Paris saat ini.Berbagai prilaku dan gaya pakaian keluarga besar khalifah bahkan menjadi acuan mode dunia kala itu. Salah satu selebritis mode itu adalah Ulayyah,salah seorang adik perempuan Khalifah Harun Al Rasyid (786-809).
“Ulayyah pernah coba menutupi sebuah goresan kecil di dahinya dengan memakai pengikat kepala yang berhiaskan emas permata. Ikat kepala ala Ulayyah tersebut lantas menjadi trend dunia mode pada zaman itu,” ungkap Philip K.Hitti dalam History of the Arabs.
Di tengah gaya hidup mapan dan serba mewah yang sudah malampaui batas,Baghdad pada akhirnya dikunjungi malapetaka. Bulan Februari 1258, sekitar 200.000 prajurit Mongol pimpinan Jenderal Hulago Khan menyerbu Baghdad. Menghadapi serangan tersebut, alih-alih bertahan, tentara Abbasiyah yang secara moril sudah miskin keberanian dan semangat karena biasa hidup senang dan berfoya-foya itu, malah lari kocar-kacir.
Ibnu Katsir melukiskan ketidak-berdayaan para tentara Abbasiyah tersebut. Menurut sejarawan Arab itu, Baghdad yang mewah dan indah dibuat jadi lautan darah oleh para prajurit Hulago Khan.”Tentara Tartar (Mongol) mengejar pasukan khalifah dan rakyat biasa hingga ke lorong-lorong kota. Mereka dengan biadab membantai tanpa ampun tentara, anak-anak, perempuan dan orang tua. Baghdad menjadi samudera darah dan penderitaan,”tulis Ibnu Katsir dalam al-Bidayah an- Nihayah.
Setelah berhari-hari bertahan di istananya yang megah, Khalifah al-Mu’thasim (1243-1258) beserta 300 pejabat dan keluarga istana akhirnya menyerahkan diri pada Jenderal Hulago Khan. Sepuluh hari kemudian para tawanan itu dipancung satu persatu, termasuk al Mu’tashim beserta dua puteranya. Baghdad lantas dibakar dan dijarah habis-habisan. Ribuan artefak dan manuskrip penting ilmu pengetahuan pun berubah menjadi abu. Selain kepada emas, rupanya tentara Mongol sama-sekali tidak tertarik pada aset sejarah dan ilmu pengetahuan.
Apa yang terjadi di Baghdad, saya pikir merupakan sebuah konsekwensi logis dari pengambilan sebuah pilihan. Ratusan tahun sebelumnya, soal ini pernah diwanti-wanti oleh Rasulullah, yang ketika sedang bercengkrama dengan para sahabatnya, tiba-tiba bersabda, “Ada suatu waktu ketika orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Salah satu sahabat lantas merespon perkataan itu dengan bertanya, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Tidak, bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian laiknya buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuh kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seorang sahabat lain cepat bertanya: “Apakah wahn itu?” Rasulullah menjawab kembali: “Cinta dunia dan takut mati.”
Baghdad telah melampaui wahn-nya dengan berbagai kehancuran. Semua peradaban yang dibangun pada akhirnya harus luluh lantak akibat candu hedonisme dan budaya bermewah-mewahan. Tuhan memang pernah berkata,”Ada suatu pelajaran dari sebuah kejadian bagi orang-orang yang berakal.” Masalahnya, hari ini kita termasuk orang-orang yang berakal itu atau bukan? Wallahua’lam. (hendijo)
Jumat, 01 Agustus 2014
Sekarang
Bintaro, dikota inilah saya sekarang, mulai dari awal lagi memang. untuk mencapai puncak kita harus dari bawah dulu pastinya. sangat saya sadari saya tidak bisa langsung sampai atas tanpa melewati proses dari bawah dulu. menjadi seorang ners bukanlah impian saya dulunya, saya masih ingat ketika pemilihan snmptn pilihan pertama saya jatuh pada psikologi, saya memang tertarik dengan ilmu satu ini. mempelajari karakter individu watak, pikiran manusia yang luar biasa complicate. dan sekarang di sinilah saya berdiri berkutat di rumah sakit, menghadapi orang yang sakit dan luar biasa banyak maunya. ya saya yakin pasti ada rencana yang Allah persiapkan buat saya nantinya. wallahuallam,,
berbicara mengenai lingkungan, bintaro seperti lebih ramah daripada jakarta, ya walaupun bandung masih menduduki tingkat pertama dihati saya sebagai daerah jelajahan. Ah bandung memang seperti rumah kedua bagi saya. percaya atau tidak memang rasanya seperti rumah ya walaupun batusangkar rumah yang tidak akan pernah tergantikan. sudah merindukan rumah saja, padahan baru tadi siang meninggalkan kota kecil permai sana.
Kerja disebuah perusahaan seperti beberapa waktu yang lagi memberi arti bagi saya, bukan kerja seperti yang saya mau. kerja toh bukan hanya sekedar cari uang kemudian selesai, tapi jauh dari pada itu. ntah lah saya mau mencoba suka duka di rumah sakit dulu, kemudian next level ---> lets we see
berbicara mengenai lingkungan, bintaro seperti lebih ramah daripada jakarta, ya walaupun bandung masih menduduki tingkat pertama dihati saya sebagai daerah jelajahan. Ah bandung memang seperti rumah kedua bagi saya. percaya atau tidak memang rasanya seperti rumah ya walaupun batusangkar rumah yang tidak akan pernah tergantikan. sudah merindukan rumah saja, padahan baru tadi siang meninggalkan kota kecil permai sana.
Kerja disebuah perusahaan seperti beberapa waktu yang lagi memberi arti bagi saya, bukan kerja seperti yang saya mau. kerja toh bukan hanya sekedar cari uang kemudian selesai, tapi jauh dari pada itu. ntah lah saya mau mencoba suka duka di rumah sakit dulu, kemudian next level ---> lets we see
Langganan:
Postingan (Atom)



