CINTA DUNIA TAKUT MATI (BELAJAR DARI PERISTIWA BAGHDAD).Gustave Le Bon, pernah memuji-muji Baghdad setinggi langit. Sejarawan Prancis tersebut menyatakan bahwa karena ilmu pengetahuan Baghdad pernah menjadi pusat dunia. Ini sebuah ironi bagi dunia Barat, karena,” …Saat pusat-pusat Islam di Baghdad sedang berada di puncak kecemerlangannya,pusat-pusat intelektual di Barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa, yang dihuni oleh para bangsawan semi barbarik yang merasa bangga atas ketidakmampuannya membaca…”tulis Le Bon dalam The World of Islamic Civilization.
Le Bone tidak berdusta. Ketika ada di bawah kekuasaan Bani Abassiyah, ilmu pengetahuan memang mengalami kemajuan yang sangat pesat di Baghdad. Kala itu, hampir di setiap sudut kota terdapat perpustakaan dan laboratorium penelitian. Bahkan bisa dikatakan hampir sebagian besar masyarakat Baghdad memiliki minat besar mempelajari matematika, fisika, kedokteran, seni dan filsafat.
Islam sendiri masuk ke Baghdad pada 637 M. Saat itu pasukan Kekhalifahan Arab Islam pimpinan Panglima Besar Saad ibn Abi Waqqash berhasil menguasai seluruh wilayah Kerajaan Persia termasuk ibu kota Ctesiphon. Mereka kemudian mendirikan pusat penerintahan di Kufah dan Basrah. Kenapa tidak memilih Baghdad? Bisa jadi selain belum ramai, saat itu Baghdad masih merupakan perkampungan kecil belaka.
Baghdad baru dilirik 125 tahun kemudian, saat Khalifah al Manshur dari Dinasti Abbasiyah meletakan batu pertama pembangunan sebuah ibu kota baru. Pemilihan Baghdad didasarkan pada beberapa alasan. Selain letaknya strategis secara militer, al Manshur juga melihat Baghdad memiliki Sungai Tigris. Itu faktor penting karena bisa menjadi sarana penghubung dengan Cina sekaligus mengeruk hasil makanan dari Mesopotamia, Armenia dan daerah sekitarnya.
Untuk membangun Baghdad, menurut Al-Thabari (sejarawan Arab klasik termashur), konon al Manshur sampai merogoh kocek sebesar 4.883.000 dirham dan mempekerjakan sekitar 100.000 arsitek, pengrajin, dan kuli yang berasal dari Syiria dan Mesopotamia.
Sejak itu, dinasti Abbasiyah memusatkan pemerintahannya di Baghdad. Namun berbeda dengan para pendahulunya para khulafaur rasyidin, gaya berkuasa khalifah-khalifah Abbasiyah terasing dari rakyatnya. Kebersahajaan dan informalitas lama yang menjadi ciri khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib) tergantikan oleh gaya hidup glamor dan hedonistik.
“Dalam keseharian, para khalifah Abbasiyah dikelilingi para tukang jagal dan body guard. Itu seperti sebuah bentuk pemberitahuan tersirat kepada khalayak bahwa mereka memiliki kekuasaan atas hidup dan mati,” tulis Karen Armstrong dalam Islam, A Short History.
Lebih dari 500 tahun, para khalifah dinasti Abbasiyah hidup dalam kejayaan dan kemewahan. Di bawah pemerintahan mereka,Baghdadyang awalnya hanya sebuah kampung kecil telah berubah menjadi pusat dunia laiknya New York atau Paris saat ini.Berbagai prilaku dan gaya pakaian keluarga besar khalifah bahkan menjadi acuan mode dunia kala itu. Salah satu selebritis mode itu adalah Ulayyah,salah seorang adik perempuan Khalifah Harun Al Rasyid (786-809).
“Ulayyah pernah coba menutupi sebuah goresan kecil di dahinya dengan memakai pengikat kepala yang berhiaskan emas permata. Ikat kepala ala Ulayyah tersebut lantas menjadi trend dunia mode pada zaman itu,” ungkap Philip K.Hitti dalam History of the Arabs.
Di tengah gaya hidup mapan dan serba mewah yang sudah malampaui batas,Baghdad pada akhirnya dikunjungi malapetaka. Bulan Februari 1258, sekitar 200.000 prajurit Mongol pimpinan Jenderal Hulago Khan menyerbu Baghdad. Menghadapi serangan tersebut, alih-alih bertahan, tentara Abbasiyah yang secara moril sudah miskin keberanian dan semangat karena biasa hidup senang dan berfoya-foya itu, malah lari kocar-kacir.
Ibnu Katsir melukiskan ketidak-berdayaan para tentara Abbasiyah tersebut. Menurut sejarawan Arab itu, Baghdad yang mewah dan indah dibuat jadi lautan darah oleh para prajurit Hulago Khan.”Tentara Tartar (Mongol) mengejar pasukan khalifah dan rakyat biasa hingga ke lorong-lorong kota. Mereka dengan biadab membantai tanpa ampun tentara, anak-anak, perempuan dan orang tua. Baghdad menjadi samudera darah dan penderitaan,”tulis Ibnu Katsir dalam al-Bidayah an- Nihayah.
Setelah berhari-hari bertahan di istananya yang megah, Khalifah al-Mu’thasim (1243-1258) beserta 300 pejabat dan keluarga istana akhirnya menyerahkan diri pada Jenderal Hulago Khan. Sepuluh hari kemudian para tawanan itu dipancung satu persatu, termasuk al Mu’tashim beserta dua puteranya. Baghdad lantas dibakar dan dijarah habis-habisan. Ribuan artefak dan manuskrip penting ilmu pengetahuan pun berubah menjadi abu. Selain kepada emas, rupanya tentara Mongol sama-sekali tidak tertarik pada aset sejarah dan ilmu pengetahuan.
Apa yang terjadi di Baghdad, saya pikir merupakan sebuah konsekwensi logis dari pengambilan sebuah pilihan. Ratusan tahun sebelumnya, soal ini pernah diwanti-wanti oleh Rasulullah, yang ketika sedang bercengkrama dengan para sahabatnya, tiba-tiba bersabda, “Ada suatu waktu ketika orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Salah satu sahabat lantas merespon perkataan itu dengan bertanya, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Tidak, bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian laiknya buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuh kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seorang sahabat lain cepat bertanya: “Apakah wahn itu?” Rasulullah menjawab kembali: “Cinta dunia dan takut mati.”
Baghdad telah melampaui wahn-nya dengan berbagai kehancuran. Semua peradaban yang dibangun pada akhirnya harus luluh lantak akibat candu hedonisme dan budaya bermewah-mewahan. Tuhan memang pernah berkata,”Ada suatu pelajaran dari sebuah kejadian bagi orang-orang yang berakal.” Masalahnya, hari ini kita termasuk orang-orang yang berakal itu atau bukan? Wallahua’lam. (hendijo)




0 komentar:
Posting Komentar